Pater Caminada: Jejak Iman yang Terputus di Tengah Jalan
Pater Caminada lahir pada 24 April 1902. Ia memulai perjalanan hidup religiusnya dengan masuk novisiat Serikat Yesus pada 7 September 1921 di Belanda. Pada tahun kedua novisiat, ia menerima tugas misi ke Hindia Belanda dan melanjutkan formasi di Kolese Ignatius, Yogyakarta (1923–1924). Setelah menyelesaikan masa novisiat, ia melanjutkan ke jenjang Juniorat di tempat yang sama (1923–1925).
Studi filsafat ia tempuh di Yogyakarta selama tiga tahun (1925–1928). Sebagai bagian dari orientasi kerasulan, ia menjalani studi khusus di Belanda (1928–1931), lalu melanjutkan studi teologi di Maastricht hingga ditahbiskan menjadi imam pada 15 Agustus 1934.
Setelah tahbisan, ia menjalani formasi akhir Serikat Yesus dalam masa tersiat di Jerman (1935–1936), dan mengucapkan kaul terakhirnya pada 2 Februari 1937.
Usai tersiat, Pater Caminada kembali ke Indonesia dan mengajar di Muntilan (1936–1943). Namun, pengabdiannya terhenti ketika ia menjadi salah satu Jesuit yang diinternir di Kamp Roncalli, Salatiga (1943–1944), lalu dipindahkan ke Kamp Interniran di Bandung. Di sana, kondisi kesehatan dan lingkungan yang buruk memperburuk keadaannya. Ia wafat akibat kelaparan pada 19 April 1944, dan dimakamkan di Bandung.